Yudi Latif Pidato Akademik di Wisuda IAIN Ambon

IAIN AMBON,- Direktur Sekolah Pancasila, Yudi Latif, didaulat memberikan Pidato Akademik pada Wisuda Sarjana Angkatan XIX dan Magister Angkatan X serta Dies Natalis XIII Institut Agama Islam Negeri Ambon, yang digelar di Gedung Islamic Center, Waihaong, Kota Ambon, Sabtu, 28 Desember 2019. Baca juga, Pengukuhan Guru Besar IAIN Ambon

Yudi mengawali pidato dengan menyebutkan kebanggaannya ketika mendengar pesan dan kesan alumni IAIN Ambon yang disampaikan oleh Safitriana Bey, S. Pd dalam tiga bahasa; Inggris, Arab dan Indonesia.

Yudi mengakui, ratusan sarjana yang diwisudakan kemarin, termasuk sekitar 1 persen warga Indonesia yang berhasil menjadi sarjana. "Dan, cara anda menjadi sarjana, kalau melihat perwakilan kalian berpidato di sini, rasanya bangga IAIN Ambon bisa melahirkan sarjana-sarjana seperti saudara," kesan Yudi mengawali pidatonya.

Ia lalu mengingatkan para sarjana, bahwa di dalam kehormatan ada tanggungjawab. Setiap orang yang memperoleh kehormatan, harus disertakan dengan pemahaman tentang tanggungjawab. Saat ini, kata Yudi, banyak orang yang ingin terhormat, tapi tidak mau mengambil tanggungjawab. Banyak orang yang berebut kekuasaan, tapi tidak mau mengambil tanggungjawab. "Banyak orang yang ingin punya kemewahan, harta tapi tidak mau ambil tanggungjawab. Setiap kehormatan itu, ada tanggungjawab." "Dan, barang siapa bertambah ilmunya, bertambah keharuannya," kritik Yudi.

Yudi kembali menekankan kepada para sarjana IAIN Ambon, bahwa tidak ada kata selesai untuk belajar. Ia lalu mengutif pernyataan Sejarawan Indonesia, Sutan Syahrir, bagi banyak orang terdidik di Indonesia, seolah-olah ilmu hanya sebagai pakaian. Yang terpenting adalah ijazahnya. "Karena itu banyak orang yang bergelar, tapi miskin pengetahuannya. Padahal yang dituntut oleh ajaran Islam, kita menjadi pembelajar seumur hidup," ingat Yudi.

Jadi, kata Yudi, sarjana merupakan satu state dari perjalanan panjang menjadi manusia pembelajar. Kendati sudah menjadi sarjana,

bukan berarti, belajar sudah berakhir. Justru, sebaliknya saat sudah menjadi sarjana, pembelajaran baru akan dimulai. Pembelajaran dengan realitas kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

"Karena, meskipun sarjana sudah melewati proses penanaman, proses pembudayaan, tetapi ingat, pohon yang kita harapkan bagi masa depan bangsa dan umat, adalah pohon yang akarnya menggunjang dalam. Batangnya tinggi menjulang. Ranting-rantingnya menjurai, dan buahnya ranum lebat. Akarnya kuat. Akar merupakan karakter. Pohon yang menjulang adalah pembelajar terus menerus. Ranting dan cabang yang menjurai adalah kecakapan melakukan tata kelola, kecakapan manajemen berorganisasi. Sedangkan buahnya yang ranum adalah kreatifitas berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi." Yudi menguraikan filosofi pohon tersebut di hadapan ratusan sarjana dan orang tuanya. Menjadi sarjana, kata dia, harus menjadi manusia yang akarnya kuat. Karakternya jelas. Memiliki nilai perbuatan yang berbasis karakter kebaikan.

Yudi dalam orasinya juga menguraikan dinamikan kehidupan manusia saat ini, yang etika dan spritualnya kian hari serasa terkikis dengan derasnya arus kehidupan terknologi. Di mana, hampir setiap saat manusia mulai meminggirkan kepentingan spritual dan etika, dengan mengutamakan gadget. Bahkan, seolah-olah status di media sosial, mulai dari facebook, twitter hingga istagram, jauh lebih penting dibanding spritualisasi diri.

Ia lalu mengingatkan kita tentang jaminan terlindunginya manusia dari pengaruh apapun lewat dua kekuatan, termasuk pengaruh kehidupan di era digitalisasi saat ini. Kekuatan pertama adalah Iman, dan kedua Pengetahuan. Dua kekuatan ini kata Yudi, telah ditegaskan dalam Al-Quran sebagai kunci kehidupan manusia yang akan dilindungi dan dimuliakan. Orang yang akan terlindungi oleh perubahan zaman, adalah orang yang memiliki iman dan pengetahuan.

"Tuhan hanya akan memberikan kemuliaan kepada orang yang kuat karakter di jantungnya, kuat keimanannya, tapi saat yang sama menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, sehingga dengan ilmu pengetahuan dan teknologi, bisa memberi nilai tambah atas karunia kekayaan alam Indonesia, yang kalau itu bisa bersinergi kekuatan iman, karakter, penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, untuk mengolah sumber daya alam kita, insya Allah satu abad Indonesia merdeka nanti, Indonesia akan tercatat seperti nubuat banyak orang, bangsa besar, bangsa terpandang, di mana kita bisa hidup bahagia di dalamnya," pesan Yudi menutup.

"Kepada sarjana, jadilah pohon yang akarnya menggunjang dalam, batang pohonnya menjulang tinggi, rantingnya menjulur lebar, dan buahnya ranum. Punya kreatifitas, karakter yang kuat, pembelajar dan terus menerus menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi untuk mengolah sumber daya alam bangsa. Bukan untuk menambah kekacauan bangsa, tapi menambah sarjana, menambah sujana, untuk kehidupan bersama yang aman dan bahagia."(*)

IAIN AMBON PIDATO AKADEMIK YUDI LATIF WISUDA NILAI KEBANGSAAN

Dilihat: 382