Wakil Ketua DPR-RI Sampaikan Kuliah Umum Di IAIN Ambon

Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI, Fachri Hamza memberikan Kuliah Umum kepada civitas akademik Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ambon.
Kuliah Umum yang dihadiri oleh Wakil Gubernur Maluku, Zeth Sahuburua, Wakil Rektor I IAIN Ambon, Dr. Mohdar Yanlua, Dekan Dalam Kuliahnya, Fachri mengingatkan kepada para mahasiswa selaku generasi penerus bangsa, untuk tidak henti belajar. Yang harus dikurangi, menurut Fachri, yakni berselancar di media sosial. "Kiranya generasi kita ini masih lebih banyak menghabiskan waktu di media sosial. Harusnya mereka lebih banyak membaca buku, dan referensi tertulis lainnya, bukan berselancar di dunia maya saja," pesan Fachri.
Politisi asal PKS ini menceritakan fenomena perkembangan negara-negara yang ada di dunia, yang sampai saat ini belum mengalami kehidupan yang aman dan damai, seperti di Indonesia. Indonesia menurut Fachri, merupakan negara yang unik, karena selain berciri kepulauan, negara ini juga memiliki penduduk dengan jumlah budaya terbesar di dunia, plus memiliki bahasa yang berbeda-beda antar penduduk. Namun demikian bedanya dalam berbangsa dan bernegara, masyarakatnya hidup rukun dan damai. Konflik justru menurut Fachri, ada di level pejabat negara dalam konteks misspolitik. Untuk masyarakatnya, kata Fachri, tetap hidup harmoni antar sesama dalam berbagai perbedaan, baik suku, ras maupun agama. Bahkan, budaya gotong royong yang ada di masyarakat Indonesia, tidak ada di masyarakat lainnya di dunia.
Fachri yakin, bahwa Indonesia di masa mendatang yang dimulai dari sekarang akan menjadi negara dengan masyarakat beradab dalam lintas agama. Ia mencontohkan, negara-negara di dunia baik di Eropa, Barat maupun Timur Tengah, justru sampai kini masih bertikai dalam frame keagamaan. Agama misalnya di Amerika, kata Fachri, justru seolah menakutkan kehidupan masyarakat. Di mana, masyarakat saling curiga dan sebagainya. Berbeda dengan di Indonesia, yang masyarakatnya hidup rukun dan saling berdampingan dalam berbedaan agama.
Fachri juga mengklaim bahwa lembaga-lembaga pendidikan keagamaan di Indonesia justru hadir di era modern ini sebagai penengah konflik berbagai pertikaian antar agama di luar negara. "Kita lihat bahwa di Indonesia pesantrennya subur dan menghadirkan modernisasi kehidupan sosial antar umat beragama. Justeru lembaga pusat-pusat Islam di negara hadir sebagai penyejuk di tengah keberagaman. Di mana, lembaga-lembaga ini dapat menjadi pilar untuk kemajuan bangsa. Indonesia ini negara yang unik, negara yang tidak hanya berpulau-pulau, tapi juga memiliki ribuan suku dan budaya. Sebab itu, sebagai warga negara, kiranya kita tetap bersyukur untuk menjadi warga yang beradab," kesan Fachri.
Ia menegaskan, keberadaan suku dan budaya di bangsa ini, telah menjadi identitas bangsa yang harus dipertahankan karena tidak ada di negara-negara lain di dunia, yang memiliki kesamaan dengan di Indonesia. "Kebudayaan di Indonesia menerima semua perbedaan, baik suku maupun agama. Di Barat, justru agama hadir menjadi problem yang kian marak menjadi perbincangan. Bahkan, tidak sedikit anggaran di Barat dan Eropa yang dikeluarkan hanya untuk berbicara soal agama, agar tidak saling mencurigai." Tidak hanya di Barat, kata Fachri, di Timur Tengah justri lebih parah lagi. "Perang saudara tidak ada henti-hentinya. Karena kutub pengetahuan orang bernegara dan beragama tidak pernah nyambung. Libya, Yaman, bahkan semua negara di Timur Tengah terlibat pertikaian atas nama agama, kecuali negara kejaraan."
Kalau Indonesia dengan budayanya yang bisa sejalan dengan agama ini dipertahankan, maka tidak mustahil, kelak Indonesia akan jadi laboratorium umat manusia untuk bagaimana orang beragama. "Bahasa beda, budaya beda, agama beda, tapi mereka bisa menyatu. Padahal, pulau juga berbeda-beda.
Indonesia adalah laboratorium umat dalam memilih beragama. Saya ingin agar laboratorium itu ada di Maluku, karena Maluku memiliki ciri-ciri tersebut," tekan Fachri.
Sebelumnya, Wakil Gubernur Maluku, Zeth Sahuburua, dalam sambutannya meminta kepada Fachri agar kiranya dapat memperjuangkan peningkatan status IAIN Ambon menjadi Universitas Islam Negeri, yang sementara diajukan proposalnya kepada Kementerian Agama RI di Jakarta. Kalau kiranya IAIN Ambon diubah menjadi universitas, maka peran IAIN Ambon menjadikan Maluku sebagai provinsi kerukunan umat beragama akan semakin luas. "Saya ingin tegaskan bahwa, ada perbedaan yang sangat mendasar antara STAIN, IAIN dan Universitas. Selain perbedaan di bidang pengembangan fakultas dan Program Studi, juga perbedaan di bidang penganggaran hingga lulusan. Dalam meningkatkan SDM di Maluku, maka peralihan status menjadi kebutuhan utama untuk menopang laju pembangunan di bidang sumber daya manusia dan sumber daya alam. Mudah-mudahan, kehadiran bapak Fachri ke Maluku dan khususnya di IAIN Ambon dapat membawa aurah baru dalam perubahan terutama menjadikan kampus ini sebagai Universitas Islam Negeri Ambon," desak Wagub Maluku.
Permintaan serupa juga disampaikan oleh Wakil Rektor I, Dr. Mohdar Yanlua, atas nama Rektor, bahwa IAIN Ambon telah menyampaikan pengajuan alih status menjadi universitas. Saat ini, IAIN Ambon terhambat prosesnya dengan kebijakan moratorium oleh Pempus. Kiranya, setelah moratorium dicabut, keinginan IAIN Ambon menjadi universitas dalam segera disetujui, sebagaimana telah diterima oleh Menteri Agama RI, Lukman Hakim Saifudin, saat menginjakkan kakinya di kampus IAIN Ambon beberapa bulan lalu. (***)

Dilihat: 241