Sukses, IAIN Ambon Tuan Rumah FGD Forum Warek I/Waket I PTKIN se-Indonesia

IAIN AMBON - Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ambon dipercayakan menjadi tuan rumah Focus Group Discussion (FGD) Forum Wakil Rektor (Warek) I dan Wakil Ketua (Waket) Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) se-Indonesia, yang digelar di Hotel Santika Premiere, Kota Ambon, 2-4 November 2019. 

Kegiatan ini diikuti hampir seluruh Warek I dan Waket I PTKIN se-Indonesia, yang dibuka oleh Kepala Subdirektorat Pengembangan Akademik Direktorat Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama, Dr. H. Mamat Salamet Burhanudin, M.Ag.

Kasubdit Pengembangan Akademik Direktorat PTKI DitjenPendis Kemenag, Dr. H. Mamat Salamet Burhanudin, M.Ag, dalam arahan sambutannya menyampaikan terima kasih dan penghargaan kepada IAIN Ambon yang telah sukses menjadi tuan rumah untuk kegiatan ini. Ia menekankan, FGD Forum Warek I/Waket I PTKIN se-Indonesia ini, kiranya tidak hanya sebatas kegiatan serimonial saja. Tapi, harus melahirkan konsep-konsep terbaru dan terbaik untuk mengubah paradigma pengembangan di dunia PTKIN. Sebab, keberadaan PTKIN setiap saat mendapatkan kepercayaan dari masyarakat yang harus dijawab dengan peningkatan mutu pelayanannya. "Lewat pertemuan ini, para Warek I/Waket I PTKIN bisa saling share pengalaman di masing-masing kampusnya. Apa yang dikembangkan dan apa yang harus dievalausi bersama."

Ia menekan, pengembangan PTKIN berbeda dengan PTU. PTKIN selain mengembangkan keilmuan berbasis umum, tapi juga mengembangkan ilmu-ilmu dakwah. "Kalau di umum hanya pengembangan keilmuan, di PTKIN ada juga pengembangan misi dakwah, dan harus tercermin di dalam semua pengembangan PTKIN."

Sejalan dengan tema kegiatan, 'Menjadikan PTKIN Unggul di Era Revolusi Industri 4.0', ia menyebutkan, sudah saatnya fokus penyelenggaraan pendidikan di PTKIN, tidak hanya mengarah ke akses lulusan saja, tapi juga harus mengutamakan mutu pelayanan akademik. "Dan, ini pas disampaikan kepada para Warek I/Waket I selaku penyelenggara bidang pendidikan di PTKIN. Mutu yang harus diberikan kepada warga atau mahasiswa harus berbasis akreditasi."

Secara umum di PTKIN, akui dia, pola pengembangannya harus berbasis akreditasi. Sebab, rata-rata PTKIN di Indonesia belum mencapai nilai akreditasi A. Dari jumlahnya yang 50 lebih, belum sampai 50 persen mendapatkan akreditasi A. Presentasinya berbanding terbalik dengan PTU. Sehingga, pola pengembangan ke depan, tidak saja di bidang akademik, tapi mencakup bidang keuangan juga harus berbasis mutu untuk mengejar akreditasi. Alasannya, setiap PTKIN ataupun PTU yang akreditasi A, maka mutu pendidikannya terjamin dengan baik, termasuk mencakup mutu lulusan. "Mulai dari penggunaan anggaran, baik dari pusat maupun dari lokal, ternyata dilihat dari berbagai macam sisi, ada yang tidak balance, bahwa indikasi lulusan dan sebaran lulusan PTKIN masih kecil terserap di dunia kerja. Ini bahagian yang sulit untuk diterima. Sehingga dibutuhkan evaluasi dan kerja keras untuk merubahnya. Terlebihnya persoalan akreditasi yang rata-rata masih di bawah nilai A." (***)

Dilihat: 82