Menag Resmikan Pusat Kajian Musik Islam IAIN Ambon

Usai membuka Konferensi Musik Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ambon, dengan latar tema, 'Islam, Music, and Peace in Indonesia and Beyond', Menteri Agama RI, Lukman Hakim Saifuddin, juga meresmikan Pusat Kajian Musik Islami Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ambon, yang berlangsung di Gedung Musik IAIN Ambon, Senin, (5/3).
Dalam sambutannya, Menag RI, mengakui, undangan ini merupakan sangat luar biasa, karena memiliki latar yang berbeda dari biasanya dalam aktivitas di lingkup Kementerian Agama RI. "Biasanya, Menteri Agama itu hanya diundang untuk menghadiri acara keagamaan atau membacakan doa, tapi hari ini, kami diundang dalam moment kegiatan yang berbeda berupa Konferensi Musik yang diselenggarakan oleh IAIN Ambon, untuk sharing dan berbagai gagasan tentang musik Indonesia," kagum Menag.
Kata dia, Konferensi Musik ini memiliki makna spesial di tengah situasi masyarakat Indonesia saat ini. "Kita sadari bahwa belakangan ini, ketegangan syahwatsangka, salingtakpercaya, disorientasi, bersikap eklusif, dan sejenisnya sedang melanda sebagian masyarakat kita. Baik disebabkan oleh perbedaan pandangan politik yang tajam, kesalahpahaman, maupun derasnya informasi yang menyesatkan. Kita memerlukan oase di tengah situasi seperti itu. Kita perlu hiburan untuk menyegarkan ingatan tentang kemanusiaan, sekaligus merekatkan kembali ikatan tentang kebangsaan. Kita perlu jalan kembali menuju nurani sebagai umat beragama pada bangsa yang penuh keberagaman ini."
Bagi Lukman, oase, hiburan dan jalan itu, adalah musik. Musik menjadi alternatif karena bisa dinikmati oleh siapasaja, tanpa mengenal sekat. Berbeda halnya dengan seni-seni lain yang penikmatnya terbatas. Sebut Lukman, seperti seni rupa, seni lukis, tari dan sebagainya. Musik menjadi pilihan yang logis, ketika humor sudah dianggap tak lucu lagi. "Jujur saja, Mukidi-pun kesulitan menghalau kabar hoax, dan merelai perdebatan-perdebatan di sejumlah grup whatsap," canda Lukman.
Lukman mengaku berbahagia dan senang dapat hadir dalam momentum bersejarah ini, karena, turut andil dalam menemukan oase yang menyegarkan bagi semua orang. "Saya tentu berbahagia karena di sini, berjumpa dengan para akademisi, musisi dan budayawan yang rajin membuka ruang relaksasi bagi jiwa-jiwa kita." Tidak salah, kata Lukman, jika Kota Ambon dipilih sebagai Tuan Rumah Konferensi Musisi Indonesia 2018. Ambon dan Maluku secara umum, sebut Lukman, adalah gudangnya musisi. "Musik bagi orang Ambon ibarat DNA, karena setiap orang dapat bernyanyi. Tentu, ini adalah sebuah anugerah yang luar biasa dari Tuhan, yang mungkin khusus bagi masyarakat Maluku."
Akui Lukman, ke depan Ambon dan Maluku umumnya layak sebagai Kota Musik Dunia. "Peristiwa hari ini menjadi bukti adanya lompatan paradigma yang mendasar dari paradigma sempit, yang menempatkan agama secara diannetral dari seni musik menuju paradigma terbuka dengan tidak mendikotomikan ajaran dari seni musik. Karena sejatinya, agama tidak bertentengan dengan seni musik dan tidak semua musik bertentangan dengan agama." Dialog seperti ini, menjadi penting agar masyarakat mendapat pencerahan dan semakin tumbuh dewasa. Musik merupakan simponi kehidupan. Tanpa musik dunia sepi, hampa dan monoton, karena musik mampu mencairkan suasana, merelaksasi hati serta menstimulasi pikiran manusia sebagai pemeran cerita kehidupan.
Untuk itu, dalam akhir sambutannya, Menag meminta masyarakat Indonesia umumnya agar dapat menjadikan musik sebagai media pemersatu bangsa. Karena, sejatinya musik mengajarkan tentang persatun dalam keberagaman, yang dibuktikan dengan keunikan dan merdunya musik yang disampaikan, karena musik sendiri sesungguhnya hadir dari keberagaman alat musik yang berbeda-beda. Ia berharap, agar musik-musik daerah dan musik-musik religi juga dikembangkan sebagai pasangan untuk keunikan musik Indonesia, sehingga ke depan, musik Indonesia akan diminati kalangan dunia. Musik sangat netral, sangat tergantung dari digunakannya. Musik dapat menjadi pemersatu dan juga kemajuan bangsa, apabila tidak disalahgunakan. Sebaliknya, kalau disalahtempatkan, maka musik juga dapat merusak bangsa atau dunia. Di akhir sambutannya, ia berharap Konferensi ini dapat melahirkan rekomendasi-rekomendasi yang dapat ditindaklanjuti bersama.(***)

Dilihat: 229