Alih Tugas Jabatan Rektor IAIN Ambon

IAIN AMBON,- Rektor Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ambon, Dr. Zainal Abidin Rahawarin menegaskan, sebaik-baik pemimpin adalah yang menegakkan aturan dan menunaikan amanah.

Diyakini Zainal, pemimpin yang mengabaikan dua hal ini, hanya akan menunggu runtuhnya saja. Penegasakan ini disampaikan Zainal, ketika memberikan sambutan pada acara Alih Tugas Jabatan Rektor IAIN Ambon dari Dr. Hasbollah Toisuta, M.Ag kepada dirinya (Dr. Zainal A. Rahawarin, M.Si) yang berlangsung di Lt II Gedung Studen Center IAIN Ambon, Rabu, 11 November 2020.

Acara ini, selain dihadiri mantan Rektor IAIN Ambon, Dr. Hasbollah Toisuta, M.Ag, juga dihadiri para pimpinan, pegawai, dosen serta perwakilan mahasiswa, dengan tetap mengutamakan protokol kesehatan.

Mantan Rektor IAIN Ambon, Dr. Hasbollah Toisuta mengawali sambutannya dengan menyampaikan kilas balik kepemimpinan selama periode 2012 hingga 6 Juni 2020.

Dijelaskan mantan Rektor IAIN Ambon dua periode ini, bahwa memimpin IAIN Ambon selama lebih dari dua periode merupakan waktu yang cukup panjang. Namun demikian, ketika sudah di penghujung kepemimpinan, rasanya, kata Hasbollah, masih banyak yang belum dikerjakan.

Hasbollah mengakui, ada beberapa perubahan yang sudah dirintis di IAIN Ambon yang selanjutnya akan menjadi tanggungjawab untuk dilanjutkan oleh Rektor baru, Dr. Zainal A. Rahawarin. Beberapa hal penting itu, kata Hasbollah, proses akreditasi program studi dengan target nilai A atau memuaskan dan mentransformasikan IAIN Ambon menjadi Universitas Islam Negeri (UIN) Ambon. Pasalnya, dua hal penting ini belum diselesaikan semasa periode kepemimpinannya. Untuk itu, Hasbollah berharap lewat tangan Rektor baru, dapat segera tertangani.

Saat memimpin IAIN Ambon, kata Hasbollah, kampus ini belum terakreditasi. Melihat kenyataan dan kebutuhan dunia pendidikan saat itu, maka ia memacu seluruh bawahannya, terutama Lembaga Penjaminan Mutu (LPM) untuk bekerja maksimal dalam waktu singkat. Alhasil, di tahun 2015, IAIN Ambon berhasil memproses akreditasi dengan predikat nilai B, setelah dirinya menjabat Rektor sejak tahun 2012. "Sekarang, hampir semua Prodi kita sudah terakreditasi, namun semuanya masih dengan nilai B. Saat ini, ada beberapa Prodi yang akan mengadakan akreditasi, yang telah diawali oleh Prodi Matematika beberapa waktu lalu." Selebihnya, Hasbollah menceritakan perjalanan kepemimpinannya sejak periode pertama hingga periode kedua, dan yang terakhir soal pembangunan yang sedang berlangsung di IAIN Ambon, termasuk terkait pembangunan pasca bencana alam yang melanda kampus hijau itu.

Hasbollah juga menceritakan soal kelancaran dukungan bantuan untuk pembangunan gedung-gedung di IAIN Ambon yang mengalami kerusakan akibat bencana alam, yang sempat mengundang perhatian Pempus dalam hal ini Kementerian Agama RI. Pasalnya, di tengah bencana alam dan wabah Covid-19, IAIN Ambon masih mendapatkan bantuan dari Kementerian PUPR, yang secara bersamaan juga difasilitasi oleh Kementerian Agama RI, kisah Hasbollah, panjang.

Hasbollah berharap, lewat tangan Rektor baru, Dr. Zainal A. Rahawarin, IAIN Ambon akan semakin maju ke depan, dan terpentingnya agar alih bentuk menjadi UIN segera direalisasikan. Hasbollah mengajak seluruh civitas akademika IAIN Ambon untuk sama-sama membantu Dr. Zainal A. Rahawarin, dalam menata kampus hijau tersebut menjadi lebih maju dan menjadi kampus yang unggul di bidangnya.


Sementara itu, Rektor IAIN Ambon, Dr. Zainal A. Rahawarin, M.Si mengawali sambutannya dengan menyampaikan penghargaan dan terima kasih kepada Dr. Hasbollah Toisuta, yang selama kurang lebih 12 tahun mengabdi sebagai pimpinan di IAIN Ambon. Disebutkan 12 tahun, kata Zainal, karena terhitung sejak kepemimpinan Dr. Dedi Djubaedi. Di mana, Hasbollah sudah dipercayakan sebagai Wakil Rektor I. Setelah menjadi Warek I, Hasbollah kembali mendapatkan amanat untuk menjadi Rektor IAIN Ambon sejak Tahun 2012 hingga 2020.

Zainal menjelaskan, untuk membangun IAIN Ambon ke depan lebih baik, maka tanggungjawabnya ada di semua komponen kampus, terutama para pimpinan yang selanjutnya dipercayakan untuk mendampinginya.

Zainal kemudian menceritakan secara singkat sejarah pembangunan IAIN Ambon sejak masih fillial dari IAIN (UIN_sekarang) Alauddin Makassar hingga menjadi STAIN Ambon di tahun 1997, dan kemudian menjadi IAIN Ambon di Tahun 2006. Menurut Zainal, setianya IAIN Ambon sudah dirancang sejak dibangun dari awal untuk menjadi Universitas. Namun, atas keterbatasan sumber daya manusia saat itu, sehingga rancangan menjadikan UIN Ambon mengalami hambatan. Kalah itu, dirinya sudah merancang agar kampus hijau ini diusulkan menjadi Universitas, namun, yang direalisasikan oleh Pempus yakni IAIN Ambon.

Menurut Zainal, lembaga ini akan menjadi baik ke depan, semua orang menggunakan kepemimpinan kolektif, bukan kepemimpinan one man show. Kepemimpinan kolektif inilah yang dibutuhkan untuk membangun akreditasi lembaga ini menjadi lebih baik, baik dari segi kualitas maupun kuantitas. "Itu yang sangat kita harapkan ke depan," tegas Zainal.

Zainal yakni, bahwa hal yang paling prinsif dari kepemimpinan adalah menegakkan aturan dan amanah. "Ketika tidak menegakkan aturan dan amanah ini, maka kita tinggal menunggu runtuhnya saja." Ia menjelaskan, ketika dua hal ini tidak ditegakkan, maka yang terjadi adalah yang saling curiga dan ketidakpercayaan akan timbul.

Hal terpenting khususnya soal anggaran di kampus, Zainal menegaskan bahwa, kampus IAIN Ambon tidak saja dibiayai oleh negara, tapi oleh para mahasiswa. Sehingga itu, pertanggungjawabannya bukan saja kepada negara, tapi juga kepada Allah Swt baik di dunia maupun di akhirat kelak. "Kampus ini bukan saja dibiayai oleh negara, tapi dibiayai oleh orang-orang fakir miskin dan kaum duafa. Siapa mereka, mahasiswa yang menyumbangkan dananya untuk studi." Tanggungjawab lembaga kepada negara melalui lembaga kontrol keuangan, seperti Inspektorat, BPK dan KPK, tapi tanggungjawab lebih berat itu kepada Allah Swt, tegas Zainal.

Zainal berharap, karya-karya besar yang sudah dibangun, untuk terus disinergikan secara bersama. "Sebab, tidak ada karya besar yang lebih sukses, kecuali saling membantu, saling sinergis, saling terakomodasi dalam satu sistem yang terintegrasi dengan seluruh kekuatan yang ada. Niatkan sekarang untuk membawa lembaga ini ke depan menjadi lebih baik. Mari kita posisikan diri sebagai pembawa rahmat, jangan memposisikan diri sebagai pembaca bencana," pesan Rektor. (*)

IAIN AMBON ALIH TUGAS REKTOR IAIN AMBON DR ZAINAL A RAHAWARIN

Dilihat: 65