Jadi Universitas, IAIN Ambon Wajib Penuhi Kualitas

Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (Pendis) Kementerian Agama RI, Prof. Dr. H. M. Arskal Salim, GP., M.Ag., memberikan kunci untuk mempercepat alih status perguruan tinggi dari Institut Agama Islam Negeri menjadi Universitas Islam Negeri (UIN). Kunci alih status menurut Arskal itu, setiap IAIN yang mengusulkan transformasi menjadi universitas, harus menyiapkan 50 persen program studinya dengan nilai akreditasi A dari Badan Akreditasi Perguruan Tinggi (BAN-PT), selain beberapa persyaratan administrasi lainnya. Hal ini diungkapkan Arskal, kepada wartawan usai menyampaikan Kuliah Umum Semester Genap di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ambon, Jumat, (1/3/2019).
Arskal menjelaskan, ketika persyaratan tersebut terpenuhi, apalagi sampai institut-nya dapat Nilai Akreditasi A, maka prosesnya tentu akan semakin mudah. Sebab, akreditasi menjadi penunjang utama dalam pengembangan dan pembangunan perguruan tinggi di Indonesia. Ketika suatu perguruan tinggi mendapatkan akreditasi A, maka syariat pada perguruan tersebut telah memenuhi ketentuan yang berlaku di dalam dunia perguruan tinggi sesuai mandat pemerintah.
Ia menjelaskan, moratorium untuk transformasi peningkatan status dari IAIN ke UIN baru akan dibuka pada Tahun 2020 mendatang. Kalau IAIN Ambon tengah menyiapkan semua kebutuhan tersebut tepat pada Tahun 2020, maka dapat langsung diproses oleh pemerintah. Pasalnya, beberapa persyaratan lainnya seperti harus memiliki profesor pada setiap fakultas, tegas Askal, dapat dibantu langsung oleh Kementerian Agama. "Moratorium akan dibuka pada Tahun 2020, maka di saat itu, kita sudah punya kriteria yang baku, yang disepakati oleh Kementerian Agama, Kemenpan, Kemenkeua, Bappenas dan KemenkumHAM. Karena itu, saya berikan kisi-kisinya untuk menjadi UIN, harus berdasarkan prestasi."
Sekali lagi, tekan Arskal, selain harus memiliki lokasi luasnya sesuai ketentuan, kampus juga wajib membenahi program studi dengan nilai Akreditasi A sebanyak 50 persen. "Kita menghendaki juga agar program studi yang ada di Institut, minimal 50 persen Akreditasi A. Apalagi, kalau ditunjang dengan Akreditasi Institusi A. Ini aspek-aspek yang kita akan uji atau lihat. Kunci-kunci lainnya, bagaimana dengan jumlah doktor yang menjadi dosen. Rasio dosen dengan mahasiswa, seimbang, ideal atau tidak. Kemudian guru besarnya. Kalau guru besarnya belum kuat, maka kita bantu, kita fasilitasi dulu, sehingga waktu berporses menjadi UIN, tidak perlu buru-buru. Kita berikan waktu hingga 2020 atau 2024." Rinci dia, dari waktu yang diberikan itu, dapat dibagikan setiap tahun apa yang harus dibenahi. Sehingga, tepat dua atau tiga tahun selanjutnya, semua persyaratan untuk menjadi UIN sudah dipenuhi. "Kapan persiapannya. Tahun pertama apa yang disiapkan, tahun kedua apa, dan seterusnya sampai dengan deadline waktu yang ditentukan. Tiap tahunnya, melepaskan kunci-kunci tersebut, sehingga, ketika sudah memenuhi persyaratan, langsung dirumuskan untuk menjadi UIN. Di mana, dua sampai empat tahun itu, pihak kampus yang mengusulkan menjadi UIN, akan berjuang dan memperbaiki hal-hal yang dibutuhkan untuk bertransformasi menjadi UIN."

Sebelumnya, Rektor IAIN Ambon, Dr. Hasbollah Toisuta, dalam sambutannya menyampaikan, bahwa dirinya telah mendiskusikan program pengembangan IAIN Ambon ke depan. Di mana, pada Tahun 2019 ini, telah ditetapkan sebagai Tahun Akreditasi. Targetnya, pada program akreditasi Tahun 2020, semua program studi di IAIN Ambon dihadapkan dapat mencapai nilai Akreditasi A. Pasalnya, salah satu program unggulan IAIN Ambon saat ini, yakni mentransformasikan kampus umat Muslim di Maluku tersebut menjadi Universitas Islam Negeri. Rektor mengakui, untuk alih status menjadi universitas, dibutuhkan kuota mahasiswa di atas 50 ribu orang, tentu, kuota ini tidak akan sebanding, kalau diberlakukan di kawasan Indonesia Timur, terutama lagi di Maluku. Atas pertimbangan itu, Rektor menyebutkan, sudah ada arahan dari Kementerian, khusus untuk jumlah mahasiswa pada wilayah Timur Indonesia, akan menjadi pertimbangan sendiri, karena melihat jumlah penduduknya.
Bak gayung bersambut, Arskal dalam materi Kuliah Umumnya menjelaskan, hal penting disiapkan IAIN Ambon untuk beralih status menjadi universitas itu, kualitasnya. Ketika kualitasnya sudah siap, maka proses alih status akan menjadi sangat mudah. Penting menurut dia, bahwa alih status jangan hanya mendukungan pendekatan politik saja, tapi, utamakan prestasi dan kualitas kampus. Kesiapan sumber daya manusia, sarana dan prasarana, hingga kesiapan pelayanan administrasi yang sesuai dengan ketentuan di universitas. Secara geografis, IAIN Ambon memiliki peluang untuk menjadi universitas, sebab, letaknya di Kota Provinsi Maluku. Tentu, bagi dia, letak geografis saja tidak cukup, tapi, perlu dilengkapi dengan persyaratan-persyaratan akademis dan prestasi lainnya. "Ini yang kita harapkan. Sehingga nanti, IAIN Ambon berubah menjadi UIN, itu bukan karena faktor politik semata. Karena memang, betul-betul berkualitas. Orang juga tampil, berhasil karena kualitas itu lebih merasa puas. Lebih percaya diri, daripada hanya katrol-katrolan, atau istilah Letjen alias lewat jendela. Kita semua bangga, ketika IAIN Ambon menjadi universitas karena berkualitas," kunci Arskal. (***)

Dilihat: 117