IAIN Ambon Gelar Kuliah Umum Semester Genap

Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ambon menggelar Kuliah Umum Semester Genap Tahun Akademik 2018/2019. Kuliah Umum untuk mengawali semester genap Tahun Akademik 2018/2019 ini, menghadirkan pembicara, Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (Pendis) Kementerian Agama RI, Prof. Dr. H. M. Arskal Salim, GP., M.Ag., dihadiri para pegawai, dosen dan ratusan mahasiswa IAIN Ambon, yang digelar di Ruang Aula Lt III Gedung Rektorat IAIN Ambon, 1 Maret 2019.

Rektor IAIN Ambon, Dr. Hasbollah Toisuta, dalam sambutan singkatnya menjelaskan, pihaknya telah menetapkan 2019 sebagai tahun akreditasi. Lewat penetapan ini, semua pimpinan dan pegawai yang ada di IAIN Ambon, akan fokuskan pekerjaannya untuk mencapai target nilai maksimal dalam program akreditasi dan re-akreditasi yang berlangsung pada Tahun 2020 mendatang. Menuju hal itu, semua pekerjaan harus dilakukan dengan target capaian mutu. Hal lainnya yang kini dikerjakan oleh IAIN Ambon, yakni menyiapkan kampus multikultural tersebut untuk menghadapi transformasi alih status menjadi Universitas Islam Negeri (UIN) Ambon. Pasalnya, proposal alih status telah disampaikan ke Pusat lewat Kementerian Agama, hanya saja, saat penyampaian tersebut, pemerintah memberlakukan moratorium terhadap program alih status IAIN ke universitas. Sebab itu, semua kebutuhan sedang disiapkan, ketika moratorium sudah dicabut, maka IAIN Ambon langsung menyampaikan hajatnya untuk meningkatkan status dari institut menjadi universitas. Guna mendukung rencana alih status tersebut, pembangunan sarana dan prasarana pendukung aktifitas kependidikan dan kantoran terus dilakukan, termasuk, dengan memperluas lahan IAIN Ambon. "Saat ini, IAIN Ambon telah membeli tanah seluas 62 Ha di kawasan Liang, Pulau Ambon. Tanah itu, disiapkan untuk pengembangan IAIN Ambon ke depan, termasuk menyambut transformasi menjadi universitas," singkat Rektor, sembari meminta kepada Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (Pendis) Kementerian Agama RI, Prof. Dr. H. M. Arskal Salim, GP., M.Ag., untuk menyampaikan Kuliah Umum kepada keluarga besar IAIN Ambon.

Direktur Pendis Kemenag RI, Arskal Salim, mengawali materi Kuliah Umumnya, dengan mengisahkan perjalanan hidupnya selama menempuh pendidikan, baik di dalam maupun luar negeri. Sebagai lulusan PTKIN, Arskal tidak pernah merasa minder untuk dapat bersaing dengan lulusan dari PT-umum. Hal ini dapat dibuktikannya, selain sebagai alumni PTKIN, ia juga alumni pesantren, yang sukses melewati proses studi doktor di luar negeri. Pengalamannya di dunia perguruan tinggi, khususnya di beberapa negara, telah menghantarkannya sampai ke kuris Direktur Pendis Kemenag RI. Semua itu, akui Arskal, dilaluinya secara serius dan tekun. Sebagai mahasiswa doktoral yang mengambil pendidikan di luar negeri, tidak berarti membuatnya meninggalkan tanggungjawabnya untuk mengajar. Bahkan, dalam pengalamannya, ia pernah memberikan kuliah jalur online via skype, antara Indonesia-Inggris. Di mana, mahasiswanya di Jakarta, sementara dirinya saat itu berada di Inggris. Perbedaan jam antara Inggris dengan Indonesia itu, lalu dimanfaatkan untuk memberikan kuliah jauh jarak kepada mahasiswanya via skype. Tidak disangka, kondisi itu tentu akang sangat lebih mudah, bila dilakukan saat ini. Memang, akui dia, dalam aspek aturan saat ini, semakin diketatkan, namun, ketika disejalankan dengan era digital revoluasi 4.0.0, maka hal tersebut sangat tepat. Saat ini, semua pelayanan sudah wajib dilakukan secara online.

Dalam materi kuliah umumnya, Arskal menjelaskan, revolusi pembangunan di dunia, yang diawali dari revolusi 1.0.0, hingga revolusi 4.0.0. Di mana, revolusi 1.0.0, ditandai dengan adanya aktifitas kehidupan manusia yang berpindah-pindah, dari satu tempat ke tempat lainnya, untuk kelangsungkan hidup. Selanjutnya pada revolusi 2.0.0, ditandai dengan hadirnya revolusi industri perusahaan yang berkembang di seluruh dunia, yang diawali dari Eropa dan Barat. Pada revolusi 2.0.0 ini, berkembang industri perusahaan di berbagai bidang, termasuk tekstil dan lainnya. Kemudian revolusi 3.0.0, yang ditandai dengan hadirnya televisi berwarna serta komputer dengan jenis pentium. Setelah semua itu, kini masyarakat dunia dihadapkan dengan era revolusi 4.0.0, yang mana, semua aktifitas dilakukan secara online. Seiring perubahan dan perkembangan zaman di era digital saat ini, masyarakat dituntut untuk bekerja maksimal menguasai semua bidang, teknolonik, informasi dan komunikasi (TIK). Hadirnya revolusi 4.0.0, menurut dia, telah membuka ruang dan akses manusia tanpa batas. Dalam hitungan detik, manusia dapat mengetahui informasi yang berkembang di dunia, tidak hanya di kota-kota besar, tapi, di pelosok desapun, selama dapat diakses dengan jaringan internet. "Yang ingin saya sampaikan dari kisah saya ini, bahwa alumni madrasah, alumni pesantren, alumni IAIN, punya kesempatan untuk bersaing di tingkat global. Maka, tidak pernah ada rasa kurang percaya diri. Apalagi, di zaman teknologi yang kian canggih saat ini. Tidak ada lagi bedanya antara kota besar dengan kota kecil. Tidak ada bedanya. Karena, apa yang dijangkau, apa yang dibaca di kota besar, di saat yang sama, waktu yang sama, juga bisa dibaca di kota kecil, dengan adanya internet di zaman revolusi industri 4.0.0 ini, dan internet of site ini," jelas dia.

Untuk itu, ia berpesan kepada civitas akademika IAIN Ambon, agar kiranya menjadi perhatian bersama, bahwa fakta pembangunan saat ini, tidak dapat mengabaikan sistem TIK. TIK harus menjadi fokus utama dalam pembangunan kampus yang berciri dengan latar belakang apapun. Sebab, lewat penguatan TIK itulah, seluruh PTKIN termasuk IAIN Ambon dapat diketahui oleh masyarakat di luar. Ia juga menitipkan kepada seluruh mahasiswa dan dosen di PTKIN, agar kiranya dapat membanjiri aktifitas kependidikan di youtube, sehingga ruang youtube, didominasi dengan aktifitas yang lebih mendidik penontonya. "Jangan biarkan orang yang belajar pendidikan agama dari pedagang kaki lima menyebar luar di youtube. Sebagai orang akademisi, mari sama-sama kita banjiri youtube dengan video-video yang lebih mendidik masyarakat. Semakin banyak video mendidik yang diupload ke youtube, maka video yang tidak mendidik akan kita kalahkan," pesan Arskal. (***)

Dilihat: 308