HMJ Sosag Diskusikan Buku Puisi Karya Rumte dan Johannes

Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Sosiologi Agama (Sosag) Fakultas Ushuluddin dan Dakwah (Uswah) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ambon membeda Buku 'Cara-cara tidak Kreatif untuk Mencintai', karya Theoresia Rumthe dan Wesley Johannes. Diskusi yang dipandu oleh Ketua Jurusan Sosag IAIN Ambon, Dr. Abdul Manaf Tubaka, menghadirkan pembicara Sastrawan Maluku, Rudi Fofid dan dosen Filsafat IAKN Ambon Victor Delvy Tutupary. Diskusi dengan konteks Bacarita Buku Puisi ini menghadirkan peserta dari mahasiswa Sosag dan Fakultas Uswah, yang digelar di Kedai Uswah Medium, IAIN Ambon, Jumat, 29 September 2018.
Ketua Jurusan Sosag IAIN Ambon, Dr. Abdul Manaf Tubaka, dalam mengawali diskusi ini mengajak mahasiswa untuk terus berkarya. Karya apapun yang bisa dihasilkan oleh mahasiswa akan dihargai. Sebab itu, jangan pernah berhenti untuk membuat karya. Bagi Manaf, kegiatan Diskusi tentang isi buku 'Cara-cara tidak Kreatif untuk Mencintai', merupakan terobosan yang dapat dilakukan oleh mahasiswa dalam mengkaji semua isi buku. Diskusi ini diharapkan dapat merangsang mahasiswa untuk memiliki semangat membaca dan menulis. Setidaknya kalau bukan buku atau karya ilmiah yang ditulis, tapi bisa menulis keadaan atau kondisi yang dihadapi setiap orang. Menulis akan menyemangatkan setiap orang. Sebab, dalam menulis kita mengawali dua proses akademik, yakni membaca dan menulis itu sendiri. Untuk itu, Manaf berharap agar mahasiswa terus belajar menulis meskipun yang ditulis hanya kata-kata atau kalimat-kalimat lepas.
Terkait dengan isi buku, menurut Manaf, ada kedalaman makna ketika seseorang membaca buku. Di mana, roh imajinasi seseorang akan hadir saat membaca setiap bait puisi. Sebab itu, Manaf mengharapkan agar kegiatan-kegiatan seperti terus disemangati dan ditingkatkan. Setidaknya, lewat kegiatan seperti ini, akan memacu semangat berpikir mahasiswa untuk menghidupkan proses-proses akademik, sesaat setelah suntuk mengikuti kuliah teori di dalam kelas. "Jangan takut berkarya, sebab banyak orang akan menilai dari berbagai sudut pandang yang baik," pesan Manaf.
Rudi Fofid alias Opa Rudi, selaku narasumber dalam diskusi ini mengawalinya dengan pengakuan bahwa, tidak mudah menulis buku yang lalu diterbitkan oleh percetakan ternama di negara, salah satunya gramedia. Sebab, buku yang sudah diterbitkan oleh gramedia, seperti buku yang sedang didiskusikan, menjadi salah satu karya yang patut mendapatkan penghargaan dari para pembaca. Sebab, tidak mudah menulis buku yang dapat menembus percetakan di gramedia.
Opa menceritakan betapa tidaknya, banyak orang Maluku yang sudah berhasil menulis beragam buku. Salah satunya, Luck Wairata, yang sudah mampu menulis buku pada zaman dulu. Meskipun beberapa kali yang setelah dicetak, buku tersebut ditarik kembali dari pasaran. Hal ini meniscayakan bahwa banyak orang Maluku yang memiliki karya untuk dijadikan buku, namun, terbatas dengan percetakan yang lebih pada memilih siapa penulisnya. Opa juga mengulas beberapa isi puisi yang ditulis dalam buku tersebut, dengan meramunya dalam pentafsiran kata.
Ia mengajak pembaca untuk memahami dan menghargai karya-karya yang ada di setip buku, yang sudah ditulis. Salah satunya tentang buku tersebut. Memahami dengan sering membaca jauh lebih baik dibanding mendiamkan buku tersebut. Karena membaca akan memberi pemahaman kepada kita. Opa mengakui bahwa isi buku ini tidak menciplak. Menyusun kata-kata yang menjadi karya secara murni dari kedua penulis. Hal inilah yang dianggap Opa sebagai sesuatu yang luar biasa dari penulisan buku-buku lainnya.
Sementara Dosen Filsafat IAKN Ambon, Victor Delvy Tutupary, mengawali pernyataannya dengan menimbulkan beberapa pertanyaan. Mengapa harus mendiskusikan puisi? Mengapa harus membuat puisi? Mengapa tidak membuat karya yang lain dari puisi? Apa gunanya menulis puisi?

Dia mengisahkan, bahwa di zaman dulu, banyak sejarawan menyampaikan pesan penting lewat syair atau puisi. Saat ini, puisi yang jauh lebih menusuk dan bermakna, justru kian mulai memudar. Bahkan jarang dijumpai penulis puisi yang adalah generasi muda. Padahal, lewat puisi bisa diungkapkan semua masalah yang sedang terjadi. Puisi memiliki bahasa sastra yang sangat kuat. Penulisnya mampu menilik setiap keadaan atau kejadian, meskipun menyinggung tapi bahasanya santun dan elok. Hal menarik dari puisi, bahwa meskipun kritiknya sangat tajam, tapi yang dikritisi selalu merasa tidak tahu.
Puisi lanjut dia, adalah deskripsi dari benda-benda partikular. Benda-benda yang bisa dilihat. Bedanya, bahwa seorang puitis dalam melihat kopi, muncul imajinasi. Kopi dilihat dengan matabatin. Ia lalu mencontohkan salah satu puisi di dalam buku tersebut, dengan judul 'Kopi Rasa Ketombe'. Berikut isi puisinya. "Kopiku mengepul bahagia. Ditemani biskuit rasa coklat. Perlahan cepulan rambut. Kutuangkan tinggi sambil membahas. Banda naira dan rumah pengasingan Hatta. Kau bersihkan ketombe. Dari anak-anak rambutku, untung. Tak masuk ke cangkir kopiku". Puisi bagi dia, memiliki makna yang sangat dalam. Meskipun ditulis hanya dalam beberapa kalimat, maknanya sangat dalam. Lewat puisi, kata dia, seseorang mampu menggambarkan sesuatu yang dilihat sederhana oleh orang banyak. Misalnya tiupan angin saja bisa dilihat dalam karya puisi. Meskipun angin kenyataannya tidak dilihat, jelas dia, panjang.
Sementara Penulis buku, Theoresia Rumthe, mencoba mengisahkan perjalanan beberapa buku yang sudah ditulis dan diterbitkan bersama rekan-rekannya. Beberapa buku yang ditulis merupakan kegelisahan terhadap masalah-masalah yang terjadi di bangsa. Misalnya, mencinta antar sesama masyarakat. Di mana, beberapa hal menjadi ruang pembatas tapi juga menjadi ruang komunikasi yang tidak terbatas, seperti adanya komunikasi via handphone. Berkomunikasi lewat handphone meskipun dibatasi dengan ruang dan jarak, bukan berarti terbatas komunikasi. Lewat handphone itulah, komunikasi bisa berlanjut. Akui Theo sapaan pendeknya, penulisan buku ini memang awalnya sangat politis. Targetnya, bahwa buku yang ditulis ini harus mampu menembus ruang pangsa pasar, salah satunya gramedia. Syariatnya untuk memperkenalkan kepada masyarakat umum tak hanya di Maluku, tapi di seluruh Indonesia, bahwa di Maluku banyak kreatifitas, yang salah satunya dalam menulis buku, termasuk menulis puisi. Kreatifitas atau kemampuan generasi muda Maluku serasa dikurung dalam penjara, karena keterbatasan akses.
Pernyataan Theo yang singkat namun, penuh makna. Sebabnya, Theo menutup diskusi ini dengan menitipkan pesan. "Sebelum mengawali semua pekerjaan, harus berdoa. Kita berdoa untuk semua yang hadir dan bisa kita nikmati," pesan Theo.
Rekannya, Wesly Johannes, dari tempat yang sama menuturkan, bahasa dalam sastra banyak lapis. Misalnya, Mandi Api. Dua kata yang tidak bisa dibayangkan dalam kenyataan, kecuali dengan imajinasi. "Mandi Api membuat konstruksi bahasa dalam otak kita tidak selaras. Mengobrak-abrik tatanan berbahasa seseorang. Pengalaman berbahasa yang bagus harus hadiri untuk memaknai dua kata ini," ulas Wesly.
Wesly punya keyakinan yang kuat, bahwa semua yang dikaryakan hari ini, tidak lain akan penting untuk hari esok dan seterusnya. Sebab itu, sebagai nyawa yang hidup, sangat tidak elok, kalau kreatifitas setiap orang dibunuh sejak dini. Kreatifitas itu harus dibangkitkan dan terus diberikan semangat untuk menghadirkan sesuatu. Meskipun sederhana, mengawali itu jauh lebih baik daripada tidak sama sekali, kata Wesly.
Wesly menutup pernyataannya dengan mengajak semua orang untuk meruntuhkan dinding yang dipasang sebagai pembatas keyakinan setiap. Sementara untuk mencapai tujuan akhir kita, Wesly menyarankan agar setiap pekerjaan apapun yang hendak dilakukan, harus diawali dengan memelihara niat baik. "Sebab, jadi apapun tidak akan berarti tanpa niat baik. Niat baik itu fitrah yang Tuhan letakkan dalam setiap diri seseorang. Bukan barang yang sekali jadi, tapi sudah ada, dan harus terus dirawat. Dengan menjaga atau memelihara niat baik, semua akan berarti dalam hidup," pesan Wesly. (***)

Dilihat: 125