Kementerian Agama RI.

Institut Agama Islam Negeri Ambon

Jalan Dr. H. Tarmizi Taher - Kebun Cengkeh - Batu Merah Atas
Ambon - Maluku - Indonesia

    Para peserta tes memperebutkan 25 kursi dosen, yang tersebar di IAIN Ambon untuk 15 kursi, dan STAKPN 10 kursi. Tes digelar dengan pengawalan ketat baik dari panitia lokal IAIN Ambon dan STAKPN Ambon, Kepegawaian Kemenag RI, serta Badan Kepegawaian Negara RI.
      Seleksi CPNS menggunakan sistem komputerisasi ini juga diikuti puluhan dosen non-PNS yang ada di lingkup IAIN Ambon. Para dosen non-PNS ini mengikuti tes CPNS guna mengubah status mereka dari dosen non-PNS ke dosen PNS, kalau nantinya lulus seleksi. Dalam seleksi menggunakan sistem CAT ini, para peserta langsung melihat hasil kerjanya, baik di depan layar komputer saat mengikuti tes, maupun lewat laman host lokal yang disediakan panitia dengan layar di luar ruang tes. Hasil tes perorangan juga terpantau langsung secara umum di luar ruangan.
    Pantauan kami di lapangan, proses seleksi CPNS sistem CAT ini dimulai Pukul 07.30 WIT dan berakhir sekira Pukul 16.00 WIT. Dari proses ini, 17 orang dinyatakan lulus. Dua peserta berhasil mencapai grit nilai tertinggi yakni Nurlaila Sehuwaky dengan total 356,00 dan Nurlaila Tuanany yang memperoleh nilai 354,00.
    Kepala Biro AUAK IAIN Ambon, Dr. Basman, selaku Sekretaris Panitia Lokal Tes CPNS menjelaskan, kuota yang diberikan Pempus kepada dua perguruan tinggi keagamaan di Maluku sebanyak 25 orang. 15 untuk IAIN Ambon dan 10 untuk STAKPN. Dalam seleksi ini, peserta yang lolos belum mencukupi kuota yang sudah disediakan. Pasalnya, grit yang ditetapkan oleh Pempus sangat tinggi, dan tak sebanding dengan kebutuhan nilai di kawasan Timur Indonesia.
    Sebab itu, Basman berharap, ke depan ada kebijakan baru khusus untuk kawasan Timur Indonesia. Misalnya dengan menurunkan grit nilai yang ditetapkan secara nasional. "Kalau tidak ada kebijakan khusus, maka hasilnya seperti yang ada. Sementara kita masih sangat kekurangan tenaga PNS, baik itu dosen maupun tenaga kependidikan atau administrasi." Menyadari masih kurangnya tenaga kependidikan atau administrasi, Basman juga berharap kepada Pempus dalam hal ini BKN RI, agar kiranya juga membuka penerimaan CPNS jalur kepegawaian. Pasalnya, sudah beberapa tahun terakhir, penerimaan CPNS khusus untuk perguruan tinggi keagamaan di Maluku, hanya untuk tenaga dosen. Sementara, kekurangan yang masih mendasar itu ada di bagian kepegawaian, plus dosen untuk Prodi yang baru dibuka. "Total kuotanya itu 25 orang. Sementara yang lolos hanya 17 orang. 14 di IAIN Ambon dan 3 di STAKPN. Artinya, masih kurang delapan orang dari kuota yang ditetapkan Pempus. Sisi lainnya itu, karena grit nilainya terlalu tinggi. Sehingga untuk kuota ini, agar kiranya ada perimbangan antara tenaga dosen dan tenaga kependidikan atau administrasi. Penting, agar pelayanan dapat berjalan secara merata, baik di bidang pengajaran maupun administrasi atau kependidikan," tutup Basman.
    Sementara itu, Staf Kantor Pusat BKN RI, Ariska Wira Widapratama, yang mengawal proses ini menyatakan, tes CPNS sistem CAT di IAIN Ambon berjalan lancar, aman dan tertib. Proses ini tentu selain ada kepuasan bagi yang lulus karena hasilnya langsung dilihat, juga ada kekecewaan dari para peserta yang tidak lulus karena nilainya tak mencukupi grit yang sudah ada. Ia berharap, para peserta yang belum sempat lulus, agar terus belajar, terutama untuk soal-soal yang sudah diuji.
    Ia menjelaskan, dalam seleksi kompetensi dasar sistem CAT ini, terdapat tiga kelompok soal yang diujui. Pertama, Tes Wawasan Kebangsaan (TWK) yang berisi tentang Indonesia Raya, kemudian Tes Intelegensia Umum (TIU) yang berisikan kemampuan dasar dan logika, serta Tes Kepribadian (KTP) yang berisi tentang kepribadian setiap peserta. "Jadi, seberapa besar pribadi seseorang itu dinilai," kata dia.
    Bagi dia, sebenarnya soal yang diuji tidak terlalu rumit. Terbukti, beberapa peserta justru mengalami keterlambatan waktu dalam proses pengisian. "Hal yang saya amati itu, bahwa ada memang peserta yang tampak grogi. Nah, grogi itulah yang membuat peserta menjadi lemot dalam menjawab soal." Aspek lainnya, kata dia, peserta yang gagal karena tidak mengatur manajemen waktu saat mengisi soal. "Kendala lainnya yang dihadapi, soal manajemen waktu selama mengikuti seleksi. Sehingga ada peserta yang tidak dapat menjawab soal karena waktu yang begitu singkat." Mestinya, kata dia, dijawab semuanya pun tidak masalah, meski belum tentu benar atau salah. "Karena dalam tes ini, tidak ada nilai minus." Ia berharap, para peserta yang belum sempat lulus, agar terus berusaha dengan rajin belajar dan berdoa.
    Terkait waktu selama proses ujian, kata dia, disediakan 5.400 detik atau 90 menit untuk 100 soal. "Jadi, satu soal dijawab dengan waktu 54 detik atau 0,9 menit. Sehingga, tiap peserta hanya punya waktu untuk menyelesaikan soal sebanyak 100 itu, dengan alokasi waktu 90 menit atau 1,5 jam," simpul Ariska. (***)