Kementerian Agama RI.

Institut Agama Islam Negeri Ambon

Jalan Dr. H. Tarmizi Taher - Kebun Cengkeh - Batu Merah Atas
Ambon - Maluku - Indonesia


    Saat ini, IAIN Ambon telah memiliki kurang lebih 40 doktor di berbagai bidang ilmu, yang kiranya dapat menjadi dukungan terkuat untuk meningkatkan statusnya menjadi universitas. IAIN Ambon sedianya sudah dapat diproses menjadi universitas, namun, mengalami hambatan karena kebijakan moratorium yang diberlakukan oleh Pempus, sehingga berdampak pula terhadap perubahan ke universitas.
    Berhadap sangat, kebijakan moratorium Pempus dapat segera dicabut, karena perubahan status menjadi universitas, menitikberatkan kepercayaan masyarakat kepada kampus Islam Negeri, satu-satunya di Maluku ini.
    Komisaris Utama PT Reasuransi Indonesia Utama (Persero), yang sekaligus Anggota Komisi XI DPR-RI periode 2006-2009, Dr. Aly Masykur Moesa, M.Si., M.Hum, alias Cak Ali, menuturkan, IAIN Ambon merupakan satu-satunya kampus pluralisme terbaik di Indonesia. Kalaupun ada kampus plural lainnya, maka tidak sehebat IAIN Ambon yang ada di Maluku. Demikian disampaikan Cak Ali, kepada wartawan usai mengisi materi Kuliah Umum semester ganjil, tahun akademik 2017/2018, di Lt III Aula Rektorat IAIN Ambon, Jumat, 8 September 2017.
    Alasan Cak Ali, hal ini terpampang jelas dalam visi dan misinya, sebagai kampus keberagamaan di wilayah Indonesia. Selain itu, dapat dibuktikan dengan keterlibatan IAIN Ambon dalam berbagai kegiatan kemanusiaan di Maluku maupun Indonesia. Anggota Badan Pemeriksa Keuangan RI Tahun 2009-2014, ini mengaku, IAIN Ambon sebagai kampus plural, bahkan sudah dikenal tidak hanya di Indonesia, tapi di dunia. Karena, beberapa peneliti keagamaan dari negara luar, seperti Australia maupun Amerika, justru lebih memilih IAIN Ambon sebagai objek studi. Hal ini, lanjut Ketua Umum PP Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama ini, merupakan entri poin penting bagi IAIN Ambon, yang terus membenahi diri menuju universitas. "Universitas pasti akan datang. Saya sangat mendukung kalau Pempus mensegerakan alih status kampus ini menjadi Universitas," tegas Cak Ali.
    Lanjut dia, alih status IAIN Ambon sudah menjadi kebutuhan penting di Maluku. Sebab, IAIN Ambon telah tampil sebagai perguruan tinggi yang melayani kebelbagaian kebutuhan masyarakat di Maluku, bahkan, tidak hanya masyarakat muslim, tapi masyarakat plural. "Dasar pertimbangan bahwa pengembangan ke universitas di wilayah Indonesia Timur, karena Indonesia Timur itu, tidak hanya Makassar, tapi seyogyanya adalah Ambon, Maluku. Nah, kalau menjadi UIN, akan menjadi tempat untuk membuktikan bahwa pluralisme di Ambon menjadi embrio terjadinya persatuan yang sejati," kesan Cak Ali. Untuk itu, pria berkacamata ini menyarankan kepada IAIN Ambon segera memenuhi seluruh syarat akademis yang diminta oleh Pempus. Kalau sudah terpenuhi, maka pada akhirnya IAIN Ambon akan mulus berubah menjadi universitas. "Misalnya kuantitas dosen, dan jumlah rasio mahasiswa, harus dipenuhi. Ini sangat teknis," pesan Cak Ali. "Saya mendukung alih status menjadi universitas, dan itu menjadi sangat baik untuk kemajuan Maluku ke depan," tutup dia, sembari mengakui, kampus IAIN Ambon dari segi lokasi sangat bagus. "Dari segi lingkungan, ini kampus yang bagus. Selain hijau juga asri. Bahkan, ketika pagi tadi, saya masih melihat embun. Sesuatu yang jarang saya jumpai di luar Ambon. Dari lingkungan juga sangat pluralisme. IAIN Ambon sangat bagus.  Banyak yang mendukung IAIN Ambon menjadi UIN di luar sana." Sebagai penutup, Cak Ali berharap, IAIN Ambon tidak henti meningkatkan kualitas penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan. "Kalau dua ini dicukupi, saya yakin Pempus dapat memahami perlunya IAIN Ambon menjadi universitas yang secepatnya," tutup Cak Ali.
    Sebelumnya, Rektor IAIN Ambon, Dr. H. Hasbollah Toisuta, dalam sambutannya secara mengawali kuliah umum menyatakan, IAIN Ambon terus berupaya melakukan pembenahan dari semua aspek. Hal ini dilakukan untuk terus melayani masyarakat sebagai suatu perguruan tinggi yang exelent di bidang pendidikan tinggi. IAIN Ambon, kata Rektor, selalu tampil sebagai perguruan tinggi dengan ciri khasnya, sebagai gerbong pengembangan pendidikan multikultur di kawasan Timur Indonesia. "Mengkaji Islam wasatiyah. Islam nusantara yang menjadi kemajuan di kawasan Indonesia, khususnya Indonesia Timur. Mengingatkan secara kontinyu agar terhindari dari gerakan separatis. Karena, gerakan itu bukan bagian dari ajaran Islam," kata Rektor.
    Seperti biasanya, Rektor senantiasa menghargai setiap tamu yang berkunjung ke IAIN Ambon, dengan menyebut mereka sebagai orang-orang penting, yang dapat membawa berkah kepada pembangunan dan perubahan IAIN Ambon ke arah yang lebih baik. "Para tamu ini seperti mahluk langkah yang datang ke kampus untuk membawa perubahan," pesan Rektor, singkat. (***)